DIA
TETAP AYAHKU
Nama ku Raka Putra
Pratama ,Usiaku 17 tahun sekarang aku duduk di kelas 2 SMU, Aku adalah anak
pertama dari dua bersaudara.Aku memiliki adik perempuan namanya Raya Putri
Pratama (Aya), usianya 16 tahun dan dia duduk di kelas 1 SMU. Kita bersekolah di tempat yang sama. Kami lahir
dari keluarga yang cukup sederhana.Ayah dan Bunda ku adalah harta yang paling
berharga yang aku miliki,karena dia selalu membawa keceriaan dalam hidup kami.
Pagi ini, Aku
masih terlelap dalam tidurku terdengar suara Bunda memanggilku,
“Raka..bangun ayo
kita solat subuh berjama’ah” panggil Bunda dari balik pintu kamar ku
“iya bun..nanti
aku menyusul” jawabku dengan malas
Aku pun beranjak
dari tempat tidurku. Solat subuh berjamaah bersama ayah,Bunda dan Raya adalah
kewajiban yang selalu kami lakukan setiap pagi.
Seusai solat kami
semua bersiap untuk melakukan aktivitas
masing-masing,Terlihat bunda yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk kami.
“Pagi bun..” sapa
ku
“Pagi sayang, Ayah dan Aya mana kok belum turun”tanya bunda ketika melihat aku
seorang diri duduk di meja makan
“Masih di atas
bun” jawabku
“Huh..lama banget
yah mereka” ucap bunda
“Ya.bun padahal
perutku udah keroncongan ni” ucapku protes
“Sabar yah sayang
,tunggu mereka turun dulu,bentar lagi juga turun” jawab bunda sambil membelai lembut rambutku
Tak lama Ayah dan
Aya pun terlihat menuruni tangga
“pagi bunda, pagi jagoan ayah “ sapa ayah ketika
melihat aku dan ibu yang sudah menunggu
“Pagi yah, lama
banget sih, cacing di perut aku dah pada
demo ni” protes ku pada ayah
“maaf sayang, ya
udah ayo kita makan” ucap ayah
Dan Ayah pun
memimpin do’a sebelum kita makan,Seusai makan ayah pun mengantarkan aku dan Aya
untuk ke sekolah.
“Oya..hari minggu
kalian ada acara ga?” tanya ayah pada ku dan Raya sambil mengendarai mobilnya
“ga ada yah, kenapa“
jawab Raya
“Ayah mau ajak
kalian jalan-jalan” jawab ayah tersenyum
“asiik ayo yah“ sambar
Raya dengan penuh semangat
“minggu kemarin
kan kita udah jalan-jalan yah, emang mau kemana lagi? Bosen ah yah” ucap ku protes
“iihh kakak minggu
kan emang waktunya buat weekend” protes Raya
“rencananya ayah
mau ngajak kalian ke panti asuhan, kenapa Raka ga bisa ikut? kalau raka ga ikut
berarti ga jadi dong” ucap ayah dengan
wajah kecewa
“kenapa ke panti
yah, mending kita ke taman cibodas yah” ucap Raya keberatan
“Habis ayah bosen
kalau jalan-jalan ke luar cuman buat weekend doang, ke panti lebih seru di sana
banyak orang-orang yang bisa kita buat bahagia udah gitu dapet pahala pula” ujar
ayah
“ide bagus tuh
yah, kan kita dah lama ga kesana, kalau kesana mah aku semangat yah”jawabku
penuh semangat
“yah ke panti, mau
ga mau harus ikut” Jawab Aya tak lagi bersemangat
“Sayang kan kita
juga harus berbagi sama orang lain”jawab ayah sambil mengelus rambut aya
“iya ayah” jawab
raya penuh senyum
Tak terasa kami
pun sampai di gerbang sekolah,Aku dan Raya pun berpamitan pada ayah dan keluar
dari mobil.
Waktu terus
berjalan pelajaran terakhir di kelas XI IPA 2 yaitu bahasa indonesia, Di sisa
waktu pelajaran kami semua di suruh Pak Wandi guru bahasa indonesia untuk
membuat cerita tentang sosok seorang
ayah bagi kami.Dengan penuh semangat dan tanpa ragu aku pun langsung menuliskan
semua isi pikiran dan hati ku tentang seorang ayah.Tak terasa kini giliran aku
harus maju ke depan tanpa ragu aku pun maju kedepan kelas
“Saya akan
menceritan sosok seorang Pratama Putra yaitu ayah saya. Dia adalah seorang ayah yang menjadi pelabuhan hati aku untuk
mengadu, Segala perjuangan yang dia lakukan selama ini hanya untuk aku, adik ku
dan bundaku. Dia adalah teladan bagi ku. Aku ingin seperti dia yang selalu membawa kebahagiaan, Canda
dan tawa di sisi kami. Dia tak pernah gentar untuk menggoreskan senyuman di
bibir kami. Tak pernah terbayang oleh ku bila dia harus pergi dalam hidupku. Mungkin
lebih baik aku yang pergi terlebih dahulu agar aku tidak pernah merasakan
betapa sakitnya kehilangan dia. Ayah kau segalanya untukku jangan pernah
berubah sedikitpun dan tetap bersama kami di sini. anugrah terindah yang tuhan berikan padaku
yaitu ketika aku terlahir di keluarga ini. Mempunyai ayah dan bunda yang begitu
sempurna untuk ku. yang mengajarkan aku untuk menjadii yang terbaik untuk semua
orang. Inilah sosok ayah bagiku terima kasih” Ucapku memaparkan tulisan yang
telah ku buat
Suasana kelaspun
menjadi ramai karena sambutan tepuk tangan dari teman-temanku.Terlihat Pak
Wandi yang tersenyum mendengar tulisan aku.
Bel tanda usai
pelajaran pun berbunyi. Aku bersiap untuk pulang ke rumah. Namun ketika aku
hendak pergi melangkah keluar kelas. Terdengar suara pak Wandi memanggil ku.
“Raka” panggil Pak
Wandi
Panggilan pak
Wandi menghentikan langkahku, Aku pun menghampiri Pak Wandi
“Ada apa pak??” tanya
ku pada pak wandi
“Tulisan kamu tadi
bagus sekali, Bapak ingin kamu membawakan tulisan kamu saat pembagian rapot,
Kamu bisa menambahkan tulisan kamu lagi. Kamu mau kan?” ucap pak wandi penuh
harapan
“mm..gimana yah
pak, Saya tidak terlalu percaya diri untuk membawakan tulisan ini, di depan
orang banyak pak!” jajwab ku ragu
“kenapa harus
tidak percaya diri tulisan kamu itu bagus sekali. Bapak hanya ingin memberikan
contoh pada teman-teman kamu yang lainnya agar mereka bisa menghargai kedua
orang tua mereka, dan bapak juga ingin menunjukan pada orang tua wali nanti
bahwa begitu berharganya mereka dan betapa
pentingnya suport mereka bagi anak-anak mereka untuk bisa melangkah maju
ke depan” jelas pak wandi meyakinkan ku
Aku hanya terdiam
penuhkeraguan mendengar ucapan pak wandi tadi, Melihat diriku terdiam pak
wandipun berkata ”Bapak yakin kamu bisa, masa kamu ga yakin sama diri kamu
sendiri! Tenang bapak akan mengajarkan kamu intonasi pembacaan tulisan ini,
biar nanti ayah dan ibu mu tambah bangga melihat penampilan kamu, Karena bapak
ingin kamu terlihat perfect di penampilan ini”
“oke pak saya
sanggup” jawabku penuh semangat
“nah gitu dong,
mulai besok kita latihan yah,sekarang kamu pulang kalau bisa tambahin tulisan
kamu oke!!” ucap pak Wandi
“Siap pak” ucapku
sambil melangkah meninggalkan pak wandi dan berpamitan
Malam ini selesai
makan malam, Tanpa membuang waktu aku bergegas untuk menyelesaikan tulisanku
yang akan ku tambahkan sesuai amanat pak
wandi tadi.
“Ka mau kemana
semangat amat”tanya bunda ketika melihat aku begitu bersemangat melangkah
meninggalkan meja makan
“iya ni.. mau
kemana jagoan ayah”sambar ayah mengulangi pertanyaan bunda
“ehh.. aku mau ke
kamar, mau ngerjain tugas “ jawab ku tersenyum
“Oo ..ya udah sana
kerjain tugasnya” ucap ayah
“oya ka jangan
malem-malem yah tidurnya. Inget waktu” ucap bunda mengingatkan aku
“oke bos” jawab ku
sambil mengacungkan jempol ku, Aku pun bergegas menuju kamarku, Lalu ku
goreskan penaku ke dalam kertas untuk menulis semua yang aku rasa kan dan aku
pikirkan, Aku baca kembali dan tak kala akupun menghapus kata-kata yang kurang
nyambung lalu ku ganti oleh kata-kata yang lebih pantas. Tanpa terasa jam di
kamarku menunjukan pukul 10. Aku pun menghentikan tugas ku, lalu tidur
terdengar suara bunda membuka pintu kamar ku, Untuk memastikan aku telah
selesai mengerjakan tugas ku.Ketika
melihat ku yang sudah terbaring bunda menghampiriku dan mencium lembut
kening ini, lalu mematikan lampu kamarku dan pergi meninggalkanku.
Siang ini seusai
pulang sekolah Pak wandi menunggu ku untuk berlatih, sebelum latihan aku pun
memberitahukan pada Raya bahwa hari ini aku tak bisa ikut pulang dengannya
karena ada urusan, Tak ada satupun yang
tahu bahwa aku akan tampil nanti di acara pembagian rapot selain pak wandi
karena aku ingin memberi kejutan pada ayah, bunda dan adikku. Aku ingin ini
semua menjadi benar-benar sebuah kejutan.
Hari berganti hari
tanpa lelah aku terus berlatih, agar aku bisa menampilkan yang terbaik nanti
karena aku ingin semua bangga terhadapku dan tanpa menggoreskan sedikitpun rasa
kecewa terutama pada pak Wandi yang telah memberikan kepercayaan pada diriku. Biasanya
aku selesai latihan pukul 5 sore, setelah sampai di rumah aku mandi, solat
magrib, mengaji, makan malam, lalu solat isya, dan setelah itu aku belajar
hingga aku tertidur dan terbangun menjelang pagi saat azan subuh
berkumandang.Tanpa terasa kini aku sudah begitu jarang berkumpul dengan
keluarga ku.
Malam ini aku
terbangun dari lelapnya tidurku, Aku melihat waker di kamarku menunjukan pukul
2. namun rasa ingin ke kamar mandi tak
dapat aku tahan, dengan rasa kantuk yang menggelayut dimataku, akupun beranjak
dari tempat tidurku dan ku buka pintu kamar, Aku turuni anak tangga satu
persatu untuk menuju kamar mandi yang berada di bawah. Namun langkahku terhenti
ketika aku melihat sosok seorang wanita
yang aku kenal sedang tertidur pulas di sofa ruang keluarga. Ku hampiri sosok itu.
“Tumben banget
bunda tidur di sofa, ayah kemana ya??” gumam ku dalam hati begitu bingung
ketika melihat bunda yang tertidur pulas di sofa.
Rasanya aku tak
tega harus membangunkan bunda yang begitu pulas tertidur, tapi aku juga tak
tega bila harus melihat dia tertidur di atas sofa ini.Tanpa ragu aku pun
melangkah ke kamar bunda untuk mengambilkan selimut dan bantal untuknya dan
memakaikan bantal dan selimut pada tubuh bunda, Akhirnya aku putuskan untuk
menemani bunda tidur di sofa.
Pagi ini bunda
membangunkan aku yang tertidur lelap di sofa
“sayang bangun” ucap
bunda yang duduk di sampingku
“ya bunda” jawabku
“sayang kamu
kenapa tidur di sofa” tanya bunda sambil mengelus rambutku
Aku pun
beranjak dari posisi tidurku dan berkata
”iia.. bun semalem aku liat bunda tidur di sofa, jadi aku temenin deh bun abis
aku ga tega liat bunda”
Mendengar ucapan
ku,bunda memeluk aku, lalu akupun melanjutkan ucapanku ”bunda kenapa tidur di
sofa??”
Bunda hanya
terdiam mendengar ucapan ku dan melepaskan pelukannya, sambil memegang tangan
bunda aku pun berkata”bunda kenapa sih,kok diem aja!! Kan aku nanya sama bunda”
“bunda ga apa-apa
sayang,ya udah sekarang kamu ngambil wudhu kita solat subuh yah”ucap bunda
sambil membelai rambutku dan pergi meninggalkan aku.
Entah apa yang
terjadi sama bunda, Namun aku tak bisa memaksa bunda untuk cerita padaku,
Akupun langsung bangkit dan mengambil
air wudhu. Pagi ini aku yang memimpin solat subuh seusai solat dan berdoa
“bun ayah mana kok
aku ga liat??” tanya aya yang heran karena pagi ini ayah tak ada
“ayah ada urusan” jawab
bunda singkat
“urusan apa bun?? ayah
berangkat jam berapa atau malam ini ayah ga pulang” ucap aya
Bunda hanya
terdiam mendengar ucapan aya, Aku sangat menanti jawaban bunda karena hal itu
yang menjadi salah satu pertanyaanku.
“ayah pergi tadi
pas kalian masih tidur, ayah ga sempet pamit sama kalian soalnya ada urusan
mendadak” jawab bunda gugup
“terus ayah
semalem pulang jam berapa” tanya aya
Sambil menatapku
bunda lalu menjawab ”jam 10 ayah udah pulang kan kamu udah tidur”
Aku tau semua yang bunda ucapkan itu bohong, semalem aku ga
liat ayah saat aku terbangun mengambilkan selimut untuk bunda di kamar bunda
tak terlihat sosok ayah di sana, dan aku tau tatapan bunda tadi menyuruhku
untuk bungkam tentang apa yang terjadi agar aya tidak berpikir apa-apa tentang
ayah.
Mendengar ucapan
bunda aya pun percaya dan langsung pergi meninggalkan aku dan bunda
“bunda” sapa ku
menghentikan langkah bunda yang hendak pergi
“kenapa sayang” jawab
bunda begitu tenang
“kenapa bunda
lakuin ini semua??” tanya ku pada bunda
“lakuin apa?” jawab
bunda
“kenapa bunda
berbohong pada aya" ucapku menjelaskan
Bundapun terdiam
sejenak dan berkata dengan lirih” cuman itu yang bisa bunda lakuin, soalnya
bunda ga tau harus menjawab apa lagi kalau
adikmu nanya tentang ayah”
“bun cerita sama
aku ada apa dengan ayah dan bunda, kenapa jadi kaya gini? Jangan bunda pendam
sendiri,aku sudah dewasa bun, siapa tau aku bisa ngasih solusi atau membantu
bunda menjawab pertanyaan Raya” ucapku
“bunda ga tau
harus cerita apa sama kamu, soalnya bunda juga ga tau apa penyebab ini semua.
Nanti ketika bunda tau semuanya, Bunda janji aka cerita sama kamu, sekarang
kamu siap-siap sana ke sekolah” jawab bunda
“janji yah bun,
buat cerita apa pun yang terjadi aku ga
mau kalau bunda sedih” ucapku lalu ku peluk erat tubuh bunda
Siang ini aku
pulang seorang diri, Karena Raya meminta ijin padaku untuk pergi ke toko buku
bersama temannya. Sesampai di depan gerbang terlihat mobil ayah terparkir di
halaman rumah ku. Akupun mempercepat langkahku untuk melihat ayah. Karena
memang beberapa hari ini aku tak bertemu ayah dan rasa rindu di hati ini sudah
terlalu besar padanya. Ketika sampai di depan pintu, Ayah terlihat keluar dari
dalam rumahku seorang diri
“ayah” sapaku
sambil mendekatinya
“eh jagoan ayah
sudah pulang,kok sendirian adikmu mana” tanya ayah ketika melihat aku seorang
diri
“dia tadi minta
izin untuk ke toko buku” jawabku
“maaf yah sayang
ayah buru-buru,ayah pergi dulu yah” ucap ayah memeluk ku, lalu pergi meninggalkan
aku
“ayah mau kemana” tanya
ku
Belum sempat
menjawab pertanyaanku, Ayah langsung mengendarai mobilnya.
Dengan penuh rasa
kecewa akupun masuk kedalam rumahku.
“Assalamualaikum” sapaku
Berkali-kali aku
mengucapkan salam, Namun tak ada jawaban dari dalam rumah lalu aku pun
memanggil bunda berkali-kali tapi sama saja tak ada jawaban.
Aku langkahkan
kakiku menuju kamar bunda. Ketika ku buka pintu kamar bunda. Aku melihat sosok
seorang wanita yang sedang duduk tertunduk di pinggir tempat tidurnya
“bunda” sapaku
sambil menghampirinya
“kamu udah pulang
ka” jawab bunda dengan suara sendu dan berusaha mengusap air matanya
“bunda kenapa?” tanya
ku ketika melihat mata bunda yang sembab
“ga apa-apa
sayang, kamu sudah makan belum?” jawab bunda mengalihkan pertanyaanku
“bunda jawab
pertanyaan aku,bunda kenapa” tanya ku sekali lagi
“bunda ga apa-apa
sayang” jawab bunda
“tadi pagi bunda
janji mau cerita apa pun yang terjadi sama aku, tapi apa sekarang bunda
sembunyiin semua ini” ucapku memohon
Bunda hanya
terdiam,lalu aku pun meneruskan ucapanku”ayah yah bun??”
Bunda pun
memalingkan wajahnya dan menangis lirih, Melihat bunda akupun langsung
memeluknya mencoba menenangkannya.
“Apa yang ayah
lakuin sampai bunda menangis begini” tanya ku kesal
“ga ayah ga lakuin
apa-apa,kami hanya bertengkar kecil kok. Sekarang kamu makan dulu yah,dan janji
sama bunda jangan katakan hal ini sama Raya” ucap bunda berusaha menenangkan
aku.
Aku pun hanya
mengngagukan kepalaku, dan pergi untuk makan
Minggu pagi ini
ketika usai solat subuh terlihat ayah terburu-buru hendak pergi entah kemana
melihat itu semua Raya pun bertanya” ayah mau kemana kok buru-buru banget”
“ayah ada urusan” jawab
ayah singkat
“ayah kan janji
sama kita mau ke panti asuhan” ucap aya kecewa
“ayah ga bisa ada
urusan yang tak bisa ayah tinggalkan” jawab ayah
“ayah urusannya
besok aja, kan ayah udah janji sama aku mau jalan-jalan” ucap aya merengek
“kamu tuh di
bilang ayah banyak urusan berisik banget sih” jawab ayah dengan nada tinggi
Mendengar jawaban
ayah Raya hanya tertunduk dan menangis. Dan ayah pun pergi begitu saja tanpa
memperdulikan Raya bahkan tanpa berpamitan pada bunda.
Melihat Raya
menangis bunda pun menghampirinya untuk menenangkan dan memeluknya
“bun kok ayah
marah-marah sih” ucap raya lirih
“ayah bukan
marah-marah sayang, tapi ayah lagi pusing banyak kerjaan, Jadi kamu harus
mengerti oke, sekarang hapus airmata kamu nanti kita jalan-jalan “ucap bunda
menenangkan
“aku udah ga mau
jalan-jalan bun, aku pengen di rumah aja” ucap raya lalu pergi ke kamarnya
Aku pun mendekati
bunda yang duduk di sofa
“Aku sekarang tau
bun apa yang terjadi antara kalian?” ucapku sambil duduk di samping bunda
“yah... kamu sudah
cukup dewasa untuk memahami ini semua, jadi ga ada yang harus di sembunyiin
lagi sama bunda”jawab bunda sambil memandang
ku
“ini kenapa bun?” tanya
ku sambil ku pegang wajah cantik bunda
yang memar
“auw..” ucap bunda
kesakitan
“kenapa bun,
kemarin aku lihat ga ada?ayah yah bun?” ucapku dengan nada khawatir
“ga kok sayang,
tadi pagi bunda ke jatuh di kamar mandi terus kebentur deh” ucap bunda
“ga bohong kan
bun?” ucap ku menegaskan
“ga sayang” jawab
bunda memelukku
Hari ini adalah
pembagian rapot, Hari yang sangat aku nantikan dan Aku berharap hari ini ayah
dapat melihat penampilanku, Pagi ini ketika sarapan aku tak melihat sosok ayah
ada di antara kita
“bun ayah mana?” tanya
ku
“ayah ga pulang
lagi sayang” jawab bunda begitu lirih
“kemana bun?” tanyaku
Belum sempat bunda
menjawab pertanyaanku Raya telah menghampiri aku dan bunda
“bun hari ini kita
bagi rapot, bunda sama ayahk ke sekolah aku kan?” ucap Raya
“mm...iya nanti
bunda kesana” jawab bunda ragu-ragu
“aku sama kakak
berangkat duluan yah bun, soalnya kita mau prepare bun”ucap Raya
“oke sayang” jawab
bunda
Setelah acara
pembagian rapot selesai,Kini acara yang di nanti pun tiba.Saatnya penampilan
aku. Ketika aku naik ke atas panggung terlihat bunda duduk seorang diri di
kursi penonton, Rasa kecewa pun meliputi
hati ku ini. Namun aku berusaha untuk tenang.
“saya Raka Putra Pratama dari kelas XII IPA 1 akan
membawakan puisi untuk semua ayah yang kami cintai”
Ayah . . .
Kaulah tempat
yang menjadi pelabuhan hatiku untuk berkeluh kesah
Seorang pejuang
yang tak pernah menyerah
Yang tak pernah
merasa getar untuk menggoreskan senyuman di bibir kami
Dan tak pernah merasa
lelah untuk memberikan yang terbaik untuk kami
Ayah . . .
Andai kau tau
betapa berartinya dirimu bagiku
Betapa sangat
berharganya dirimu bagi ku
Dan kehadiranmu
yang selalu ku tunggu
Ayah. . . .
Temanilah aku
hingga akhir hidupku
Janganlah
pernah berubah sedikitpun
Jangan
tinggalkan aku
Berjanjilah
ayah
Tuhan. . .
Jagalah selalu
ayah ku
Lindungi selalu
ayahku
Dan selamatkan
ia selalu
Tuhan . . .
Ijinkan aku
untuk bisa membuatnya bahagia
Ijinkan aku
untuk bisa membuatnya bangga
Ijinkan aku
untuk bisa menggoreskan senyum kebahagian dan kebanggan di bibirnya
Tuhan . . .
Sampaikan
padanya bahwa aku butuh dia
Bahwa aku
mencintainya
Bahwa aku tak
akan menjadi apa-apa tanpanya
Tuhan . . .
Sungguh ku
berterima kasih padamu
Atas semua
kebahagiaan ini
Atas semua
anugrah terindah yang kau berikan ini
Dan terima
kasih kau berikan aku ayah dan bunda yang luar biasa
Terima kasih
untuk semuanya
Ayah . . .
Kau lah
pahlawanku
Kau lah idola
ku
Dan kau lah
teladanku
Terima kasih
ayah
Ucap cinta ku
padamu
Sepanjang masa
Terlihat bunda
yang menangis dari kursi penonton, Aku tau pasti bunda merasakan apa yang aku
rasakan saat ini. Moment yang aku tunggu hari ini datang juga walau aku
berharap ayah hadir dan menyaksikan aku mengungkapkan semua isi hati ku ini.
akupun turun dari panggung dengan sambutan tepuk tangan dari semua orang. Pak
Wandi pun menyambutku dengan peluk hangat di bawah tangga dan berkata ”kamu
hebat raka,bapak yakin ayah kamu pasti bangga memiliki anak sepertimu”.
Mendengar ucapan pak Wandi aku hanya bisa terdiam dalam pelukkannya. Sambil
melepaskan pelukannya pak wandi pun berkata”Antarkan bapak pada Ayah mu”
Dengan wajah
tertunduk akupun menjawab ”Ayah tak bisa hadir pak hari ini, Maka itulah yang
membuat aku sangat kecewa pak, Hari yang
saya nantikan, hal yang saya bayangkan akan begitu indah namun hanya menjadi
bayangan dan tak mampu untuk menjadi sebuah kenyataan. Saya berharap ayahku
yang menjemput aku saat turun dari atas panggung tersenyum bangga dan memelukku
dengan penuh kebanggaan tapi itu semua..”ucapan ku lalu terdiam mendengar
ucapan ku pak Wandi kembali memelukku
“Kamu ga boleh
sedih, mungkin memang ayahmu saat ini tak bisa datang, itu semua dia lakukan
untuk bisa memberikan yang terbaik nantinya buat kamu, adikmu dan bundamu” ucap
pak Wandi begitu bijak
Mendengar ucapan
itu aku begitu tenang ku hapus airmataku, lalu ku hampiri bunda di kursi
penonton, Melihat kedatanganku Bunda menyambutku dengan pelukan erat darinya
dan berkata ”bunda bangga sama kamu amat sangat bangga ”Ucapan Bunda membuat
aku tak lagi menangis dan membuat aku untuk semakin tegar hadapi semua ini
karena aku harus menemani bunda dan tak boleh sedikitpun lengah menjaga bunda
dan Raya.
“kakak..” sapa
Raya sambil memeluk aku lalu berkata lagi”kakak super hebat, aku bangga sama
kakak 2 jempol buat kakak”sambil menunjukan kedua jemari jempolnya
”bunda..gimana
rapot kita?” tanya Raya
Bunda pun langsung
mengangkat kedua jempolnya” anak bunda dua-duanya hebat, kalian berdua dapat
rengking 1 dan kamu raya masuk kelas IPA” ucap bunda lalu memeluk aku dan aya
Setelah pembagian
rapot kemarin, kini libur panjang pun datang, berbeda jauh dengan liburan
kemarin, Aku dan Raya hanya berdiam diri di rumah. Tetapi semua tetap
mengasikan walau tanpa ayah. Beberapa minggu ini ayah tak pulang sejak
pertengkarannya dengan bunda.Aku dan Raya pun sudah mulai terbiasa tanpa
kehadiraanya,bahkan aku merasa bahwa kami sejak dahulu memang tak memiliki
ayah. Dan mungkin Raya sudah mulai bosan bertanya tentang ayah dan mendengar
jawaban bunda yang selalu bilang ayah sibuk.
Malam ini aku
terbangun dari lelapnya tidurku, karena keringnya tenggorokan ini, dengan rasa
malas dan kantuk aku turuni anak tangga satu per satu. Namun langkahku terhenti
, ketika aku mendengar suara gundah dari kamar bunda dan ayah.
“Ayah sudah
pulang”ucapku pelan ketika hendak melangkah pergi tiba-tiba aku mendengar suara
bunda yang sedang marah, membuat aku mengurungkan niatku untuk pergi dan aku
pun berdiam diri di depan pintu kamar mereka sambil menlihat dan mendengarkan
apa yang sebenarnya terjadi ,
“Aku tau mas
sekarang mas memiliki wanita lain selain aku.Tak ada yang harus di sembunyikan
lagi mas aku tau itu semua” terdengar suara
bunda dengan nada sedikit tinggi
“bagus kalau kamu
tau, jadi saya ga harus bersusah payah menjelaskan padamu lagi” jawab ayah
begitu santai
“inget mas sama
anak-anak, Aku rela mas sakitin, aku rela mas pukul sampai aku memar begini.
Tapi aku mohon mas jangan pernah tinggalkan anak-anak dan buat mereka kecewa” ucap
bunda menurunkan nada bicaranya
“mereka sudah
besar pasti mereka semua akan lebih mengerti” ucap ayah
“ga segampang itu
mas buat mereka mengerti, mas enak-enakan selingkuh, tapi apa mas pernah tau
kalau anak-anak mas di sini nanyain mas, sampai-sampai aku bingung buat
jawabnya. Dan saat pembagian rapot, Mas
tau ga kalau raka jagoan mas nyiapin puisi buat mas. Dia berlatih berhari-hari
berharap ayahnya liat penampilannya. Tapi apa mas?? ga punya waktu buat mereka
sama sekali mas, mas membuat mereka kecewa ” jawab bunda dengan lirih
“Aahh.. saya ga
peduli. Itu urusan kamu”ucap ayah
“seenaknya mas
ngomong begitu,sekarang apa sih mau mas, jangan terlantarin kita kaya gini” ucap
bunda menangis
“Saya ga pernah
terlantarin kalian, Saya tetap memberi kamu nafkah, memberimu uang untuk
keperluan kamu dan anak-anak” jawab ayah
“bukan uang yang
kami butuhkan,saya dan anak-anak cuman butuh kamu yang dulu” ucap bunda
“saya bukanlah
yang dulu lagi, saat ini saya sudah menemukan wanita yang benar-benar saya
butuhkan dan saya cari” ucap ayah dengan nada tinggi
“apa mas? mas tau
apa yang mas ucapkan tadi, aku istri mas, sakit mas hati aku. dan jagan pernah
salahkan aku kalau nanti mereka membenci mas, karena sikap mas seperti ini” ucap
bunda sangat lirih.
“yang saya mau
saat ini hanya ingin hidup bersama wanita yang saya cintai dan saya ga perduli
akan apa yang terjadi nanti” jawab ayah
“maksud mas” tanya
bunda
“saya ingin
menceraikanmu” jawab ayah
“jangan mas,gimana
anak-anak?? cukup saya yang tersakiti kasihanilah mereka” ucap bunda lirih
“saya ga perduli” jawab
ayah
“mas aku
mohon,jangan tinggalin aku sama anak-anak,biarkanlah aku di madu asal anak-anak
masih memiliki ayah” ucap bunda sambil tekuk di hadapan ayah
“wanita itu tidak
ingin cintanya terbagi, dia ingin memiliki saya seutuhnya” ucap ayah
“jangan mas,jangan
ceraikan aku...” jawab bunda dengan derai airmata di pipinya
“kamu tuh di
bilangin susah banget sih” jawab ayah
“tapi mas” belum
sempat bunda melanjutkan kata-katanya tamparan keras dari ayah telah mendarat
di wajah cantik bunda hingga dia terjatuh ke lantai.
Melihat kejadian
itu aku langsung berteriak ”Bunda...” dan menghampiri bunda lalu memeluknya
Terlihat wajah
ayah yang terkejut melihat kehadiranku,
“cukup yah..jangan
sakitin bunda lagi. Dan bunda cukup ga perlu mohon-mohon lagi sama ayah. Kita
udah terbiasa bun hidup tanpa ayah, kalau saat ini ayah mau pergi, pergilah yah
tapi satu hal yang harus ayah tau jangan lagi datang dan menemui kita dan ayah
ga perlu kirim-kirim uang untuk biaya aku dan raya karena aku yang akan
menggantikan ayah. Sku akan mencari uang bantu bunda, semua aku lakuin karena aku tak ingin di biayai
oleh laki-laki yang sudah mencampakan aku,adikku dan terutama bundaku” ucapku
“sejak kapan kamu
mulai kurang ajar” jawab ayah sambil mengangkat tangannya untuk memekul ku
“jangan mas, cukup
aku yang kamu lukai jangan sekali-kali kamu sentuh anakku” sambar bunda dan
melindungi aku
“kenapa ayah mau
pukul aku. Pukul yah kalau ayah emang belum puas nyakitin kita. aku salah besar
ternyata, dulu aku ingin seperti ayah,ayah adalah teladan aku, idola bagi aku,
tapi ternyata aku salah ayah sama sekali tidak pantas untuk di teladani bahkan
di idolakan. Pergilah yah dan aku yakin suatu saat nanti ayah akan menyesal, pegang
janji aku yah dan jangan sekali-kali berharap bisa menyentuh adik dan bundaku atau menyakiti mereka” ucapku
llirih
“Ayah akan pergi
dan tunggu saja surat cerai yang akan saya ajukan ke pengadilan” ucap ayah
sambil melangkah pergi
Seperginya ayah
aku berusaha untuk menenangkan bunda.
“jadi selama ini
wajah bunda memar karena ayah” ucapku pada bunda sambil membelai lembut wajah
cantik bunda
Bunda hanya
menganggukan kepalanya
“kenapa bunda
berbohong padaku” ucapku
“bunda ga mau
kalian sedih dan membenci ayah kalian” jawab bunda lirih
“bunda sungguh
kami ga akan pernah sedih kehilangan ayah seperti dia, bahkan aku lebih sedih
kalau bunda tetap sama ayah dan terus di
sakiti. Aku ga mau itu terjadi” jawabku sambil memeluk erat bunda
“kalian memang
yang terbaik buat bunda” ucap bunda memeluk erat tubuh ini
Bulan demi bulan
telah berlalu Ayah dan Bundapun telah
berpisah dan Raya pun telah mengetahui
semua yang terjadi antara ayah dan bunda bahkan dia lebih dewasa
menerima ini semua di bandingkan apa yang aku dan bunda bayangkan.
Siang ini ketika
aku, Bunda dan Raya sedang asik duduk di depan televisi,Tiba terdengar suara
ayah “Assalamualaikum” sapa ayah
Mendengar ucapan
itu kami pun menoleh kebelakang, Sungguh terkejut aku, ketika aku melihat ayah
bersama istri barunya bergandengan mesra di depan kami semua. Melihat semua itu
aku pun jadi emosi seakan aku tak rela melihat semua ini” ngapain anda kesini
lagi”
“iya ngapain lagi
ayah kesini” sambar Raya
“Ooo..sabar
anak-anak ayah, Ayah kesini cuman mau ngambil barang-barang ayah dan ayah juga
mau ngingetin sama kalian kalau rumah ini akan di jual secepatnya” ucap ayah
“Maaf andabukanlah
ayah kami lagi, ambil saja barang-barang anda kami semua pun sudah tak sudi
untuk menampungnya” jawab Raya begitu emosi
Ayahpun pergi
membereskan semua barang-barangnya di bantu oleh istri barunya itu.
Setelah selesai
membereskan barangnya ayahpun pergi dan sebelum pergi dia berkata ”sekali lagi
ayah mau ngingetin kalau rumah ini akan di jual, jadi kalian harus segera pergi
dari sini”
“sabar bapak
Pratama Putra kita semua juga bakal pergi tanpa membawa apapun dari sini, Dan
kita akan pergi dari kota ini. Supaya kita tak lagi bertemu dengan orang
seperti anda” jawabku, Mendengaar ucapanku ayahpun pergi.
Setelah kepergian
ayah bunda merangkul aku dan Raya lalu menyuruh kami duduk dan berkata ”Kalian
ga boleh seperti itu, Dia tetaplah ayah kalian, seperti apapun dia dan
bagaimanapun dia, Namun di dalam darah kalian mengalir darah ayah yang selama
ini selalu berjuang untuk kita dan memberikan pelajaran berharga untuk kita.
Bahkan dia pula lah yang membuat kalian semakin dewasa. Bunda ga akan pernah
melarang kalian untuk bertemu dengan ayah. Atau menghalangi ayah bertemu
kalian”
Setelah kejadian itu aku, Bunda dan Raya pun
pindah ke Bandung. Kini aku bersekolah sambil kerja part time yah lumayan buat
bantu-bantu bunda,walau awalnya dia tak mengizinkan karena saat ini aku ssudah
kelas 3 dan sebentar lagi akan menghadapi ujian, Tapi aku bisa untuk meyakinkan
bunda dan berjanji tak akan ada yang berubah pada nilai ku dan waktu belajar
ku, dan bunda kini menjadi guru meneruskan pekerjaannya yang dahulu. Walau
sekarang kami hanya bertiga namun kebahagiaan ini sama sekali tak berubah
seperti dulu.Kini tak ada lagi airmata yang ada hanya canda dan tawa. Dan
sekarang idola ku bukanlah ayah tapi bunda. Tapi ayah akan selalu menjadi
ayahku seperti apapun diaseperti yang bunda ajarkan pada aku dan Raya
_Inilah keluarga yang selalu menjaga dan
menghargai_
Dan inilah cinta
ga perlu punya keluarga yang sempurna, Tapi kesempurnaan itu sendiri akan
hadir, ketika kita bisa menghadapi semua masalah bersama-sama dan tidak
membiarkan seseorang terus terluka demi kebahagian yang menjadi sebuah
fatamorgana. Karena kebahagian tercipta dengan adanya rasa CINTA...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar