Surat Tinta Merah
Surat itu masih terdiam membisu
tanpa kata keluar darinya, tergolek lemas diam di atas meja, tanpa ada yang mau
menyentuhnya, Aku pun enggan memegangnya apalagi membacanya. Aku benci dia.
***************************************************************************
Pagi hari sebelum keberangkatanku
meninggalkan daerah yang sangat ku cintai ini, sudah nampak jelas di wajahku,
Aku malas pergi ke Cianjur. Aku sudah teramat nyaman dengan tanah yang aku
tapaki sejak kecil, Kudus kota kretek membuatku rindu pada almarhum nenek, Yah!
Beginilah setelah nenek meninggal aku harus segera menyusul Ibu untuk tinggal
di Cianjur, tepatnya daerah asal usul bapakku. Sebagai anak yang paling kecil aku
hanya harus menurut apa saja yang di pilih Ibu untuk hidupku, Ya walau aku juga
harus mengorbankan kehidupan SMP ku untuk ku pindah di Cianjur, Aku harus
meretas harapan Ibu ku yang selalu ingin aku ini menjadi orang sukses seperti
abangku yang sudah malang melintang mencari nafkah untuk keluarga. Mas Amdar,
abangku yang sangat aku bangga-banggakan. Dia bisa menggantikan tugas bapakku
yang terlampau salah menapak jalan.
Fina, bukan satu satunya sahabatku
yang sedih akan keberangkatanku meninggalkan Kudus nanti sore. Aku putuskan
pagi itu aku berkeliling bersama Fina dengan sepeda ontel peninggalan almarhum
kakek, Aku sangat semangat sekali dan sambil bernostalgia dengan Fina dengan
masa-masa yang sudah terlewatkan.
“Wan, Aku kayaknya bakal kangen
banget sama kamu lho Wan.”Ucapnya sambil menyusul laju sepedaku yang sedikit
mendahuluinya
“Halah, nggak usah kayak gitu, toh
masih bisa komunikasi lewat surat to? Atau malah suatu hari nanti dunia makin
canggih, siapa tau kita bakal gampang komunikasi yo?”
“Amin yo Wan, oya Wan inget nggak?
Dulu Pak Kodir selalu aja, negur kita gara-gara kita selalu hampir telat masuk
gerbang sekolah?”Nostalgia Fina
“Iya Fin aku masih inget, itu kan
hampir tiap hari kita begitu kelakuannya?yo to? Lagian kita yang aneh juga,
udah tau bawa sepeda eh malah di tuntun sambil jalan, gimana nggak telat?”
Kami pun tertawa, mengingat betapa
polosnya kami setiap hari menghadapi Pak Kodir satpam SMP ku. Aku tertawa
senang bersamanya, mungkin tawa itu akan langka ku dapat lagi, tawa dari mulut
Fina, sahabat setiaku di Kudus. Aku selalu menghela nafas seperti rasa sedih
tetapi bercampur amarah, sangat sulit di jelaskan, itu ku lakukan setiap kali
ingat di sepanjang perjalanan menyusuri rumah ke rumah teman-temanku untuk ku
pamiti. Fina selalu saja membuatku mrebes mili, sampai sesulit ini ya
meninggalkan bagian hidup yang telah lama ku tapaki, Kudus Oh Kudus.
***
Pagi berubah jadi siang lalu siang
berubah jadi sore, Sore dan perpisahan akhirnya datang, Ku hirup nafas panjang
lalu melepasnya dengan lega dan ku ucap basmallah meninggalkan tempat
kelahiranku. Kudus mungkin akan menyimpan segala kenangan masa kecilku bersama
orang-orang yang ku cintai, aku berjanji setiap ada kesempatan aku ingin
kembali ke Kudus.
“Fin, komunikasi kita jangan sampai
putus yo?” ku berteriak dengan suaraku yang parau karena sambil menangis
terharu. Fina dan beberapa kerabatku melepas kepergianku bersama abangku Mas
Amdar yang menjemputku dari Cianjur. Ibu sengaja tak ikut dengan Mas Amdar, katanya
takut sedih melihat perpisahanku dengan Kudus. Ibu ku pernah bilang denganku
bila 100 hari nenek sudah berlalu, Maka aku harus bersiap menuju kehidupan baru
di Cianjur. Hari ternyata sama cepatnya dengan cahaya ku rasakan begitu. Kenapa
perpisahan selalu ada? Agar kita bisa menghargai pertemuan yang di gariskan
oleh-Nya, Subhanallah
Mas Amdar dan aku berangkat ke
terminal sore itu dan baru pada maghribnya bus tujuan Kudus-Cianjur hadir juga,
untung saja beberapa waktu sebelumnya Mas Amdar mengajakku untuk menjamak
sholat Isya’ dan Maghrib di mushola terminal. Sehingga keberangkatan kami
senantiasa tenang kerena sudah melaksanakan kewajiban.
Tengah malam kami sudah sampai di
Karang Anyar itu berarti tak lama lagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar