Minggu, 18 Mei 2014

puisi surat "Tinta Merah"



Surat Tinta Merah

            Surat itu masih terdiam membisu tanpa kata keluar darinya, tergolek lemas diam di atas meja, tanpa ada yang mau menyentuhnya, Aku pun enggan memegangnya apalagi membacanya. Aku benci dia.
***************************************************************************
            Pagi hari sebelum keberangkatanku meninggalkan daerah yang sangat ku cintai ini, sudah nampak jelas di wajahku, Aku malas pergi ke Cianjur. Aku sudah teramat nyaman dengan tanah yang aku tapaki sejak kecil, Kudus kota kretek membuatku rindu pada almarhum nenek, Yah! Beginilah setelah nenek meninggal aku harus segera menyusul Ibu untuk tinggal di Cianjur, tepatnya daerah asal usul bapakku. Sebagai anak yang paling kecil aku hanya harus menurut apa saja yang di pilih Ibu untuk hidupku, Ya walau aku juga harus mengorbankan kehidupan SMP ku untuk ku pindah di Cianjur, Aku harus meretas harapan Ibu ku yang selalu ingin aku ini menjadi orang sukses seperti abangku yang sudah malang melintang mencari nafkah untuk keluarga. Mas Amdar, abangku yang sangat aku bangga-banggakan. Dia bisa menggantikan tugas bapakku yang terlampau salah menapak jalan.
            Fina, bukan satu satunya sahabatku yang sedih akan keberangkatanku meninggalkan Kudus nanti sore. Aku putuskan pagi itu aku berkeliling bersama Fina dengan sepeda ontel peninggalan almarhum kakek, Aku sangat semangat sekali dan sambil bernostalgia dengan Fina dengan masa-masa yang sudah terlewatkan.
“Wan, Aku kayaknya bakal kangen banget sama kamu lho Wan.”Ucapnya sambil menyusul laju sepedaku yang sedikit mendahuluinya

“Halah, nggak usah kayak gitu, toh masih bisa komunikasi lewat surat to? Atau malah suatu hari nanti dunia makin canggih, siapa tau kita bakal gampang komunikasi yo?”
“Amin yo Wan, oya Wan inget nggak? Dulu Pak Kodir selalu aja, negur kita gara-gara kita selalu hampir telat masuk gerbang sekolah?”Nostalgia Fina
“Iya Fin aku masih inget, itu kan hampir tiap hari kita begitu kelakuannya?yo to? Lagian kita yang aneh juga, udah tau bawa sepeda eh malah di tuntun sambil jalan, gimana nggak telat?”

Kami pun tertawa, mengingat betapa polosnya kami setiap hari menghadapi Pak Kodir satpam SMP ku. Aku tertawa senang bersamanya, mungkin tawa itu akan langka ku dapat lagi, tawa dari mulut Fina, sahabat setiaku di Kudus. Aku selalu menghela nafas seperti rasa sedih tetapi bercampur amarah, sangat sulit di jelaskan, itu ku lakukan setiap kali ingat di sepanjang perjalanan menyusuri rumah ke rumah teman-temanku untuk ku pamiti. Fina selalu saja membuatku mrebes mili, sampai sesulit ini ya meninggalkan bagian hidup yang telah lama ku tapaki, Kudus Oh Kudus.
***
            Pagi berubah jadi siang lalu siang berubah jadi sore, Sore dan perpisahan akhirnya datang, Ku hirup nafas panjang lalu melepasnya dengan lega dan ku ucap basmallah meninggalkan tempat kelahiranku. Kudus mungkin akan menyimpan segala kenangan masa kecilku bersama orang-orang yang ku cintai, aku berjanji setiap ada kesempatan aku ingin kembali ke Kudus.
“Fin, komunikasi kita jangan sampai putus yo?” ku berteriak dengan suaraku yang parau karena sambil menangis terharu. Fina dan beberapa kerabatku melepas kepergianku bersama abangku Mas Amdar yang menjemputku dari Cianjur. Ibu sengaja tak ikut dengan Mas Amdar, katanya takut sedih melihat perpisahanku dengan Kudus. Ibu ku pernah bilang denganku bila 100 hari nenek sudah berlalu, Maka aku harus bersiap menuju kehidupan baru di Cianjur. Hari ternyata sama cepatnya dengan cahaya ku rasakan begitu. Kenapa perpisahan selalu ada? Agar kita bisa menghargai pertemuan yang di gariskan oleh-Nya, Subhanallah

Mas Amdar dan aku berangkat ke terminal sore itu dan baru pada maghribnya bus tujuan Kudus-Cianjur hadir juga, untung saja beberapa waktu sebelumnya Mas Amdar mengajakku untuk menjamak sholat Isya’ dan Maghrib di mushola terminal. Sehingga keberangkatan kami senantiasa tenang kerena sudah melaksanakan kewajiban.

Tengah malam kami sudah sampai di Karang Anyar itu berarti tak lama lagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar