"Keluarga
Bahagia"
Setiap orang memiliki presepsi nya sendiri mengenai keluarga
bahagia, begitu juga dengan aku. Aku memiliki konsep sederhana mengenai
keluarga bahagia, bagi ku keluarga bahagia adalah sebuah keluarga kecil
sedehana yang bertabur kasih sayang. Presepsi ku tidak salah, namun juga tidak
seutuhnya benar.Aku tinggal bersama sebuah keluarga kecil yang bahagia. Yang
terdiri dari Ayah, Ibu dan tentunya aku. Ayah bekerja di sebuah perusahaan yang
hampir setiap hari nyamendapatkn pahala, gimana tidak, ayah ku kan bekerja di
sebuah perusahaan listrik swasta dan mungkin kalian sudah pada tau apa yang
terjadi jika listrik mati, orang-orang pada memaki ayah. Gaji Ayah sudah lebih
dari cukup untuk membiayai kami bertiga, jadi ibu hanya menjadi ibu rumah
tangga yang baik, sedangkan aku sibuk menikmati usia ku.Saat usia ku beranjak 4
tahun, aku bersekolah di sebuah TK swasta yang lumayan jauh dari rumah, ibu
selalu mengantar dan menunggu ku setiap kali aku bersekolah. Selain alasan
untuk menghabiskan waktu, ibu sengaja mengantar ku untuk menjaga ku. ibu memang
sayang dengan ku. Apapun yang ku inginkan selalu diturutin oleh ibu, walau pun
kadang-kadang ibu sedikit cerewet, tapi hanya dengan sedikit air mata kucing
semua keinginan ku pasti akan dikabulkan, jangan heran kenapa aku bilangnya air
mata kucing bukan air mata buaya, maklum lah ku kan masih empat tahun jadi
kenalnya cuma kucing , itupun kerena aku memeliara kucing, dan Belum waktu nya
aku melihara buaya.Anak-anak zaman sekarang memang udah pada canggih, saat usia
ku enam tahun aku sudah bisa membaca dan menulis walau tak sebagus orang
dewasa, tapi bagi ku cukup lah kalau hanya untuk sms-an, chatting, BBM-an,
Facebook-an, Twitter-an, apalagi Cuma untuk memahami tontonan ditelevisi. Jadi
ngak heran kalau aku sering meniru tontonan
TV ku, setiap informasi yang ku dapat juga sering ku aplikasikan ke kehidupan
sehari-hari ku, missal nya saja waktu aku menonton iklan KB di TV, aku bukan
tipe orang yang pelit ilmu, jadi aku memberi tahu ayah dan ibu mengenai
informasi ini.“Ayah, ibu…, di TV bilang dua anak lebih baik” kurang lebih gitu
deh. ayah dan ibu tertawa, aku memang terlalu polos saat itu, aku tidak tau
kenapa kedua orang tua ku tertawa, aku kan tidak salah, ibu dan ayah memang
belum tau tentang informasi penting ini, bukti nya aku anak tunggal. Aku sih
maklum aja, mungin karena ayah sibuk kerja dikantor, dan ibu sibuk
bersih-bersih di rumah jadi tidak sempat nonton TV.Karena usia ku sudah hampir
berajnak tujuh tahun, ini saat nya aku masuk SD, seperti biasa ibu mengantar ku
pergi ke sekolah, tapi hari ini sepertinya wajah ibu terlihat sedikit pucat,
dan ibu juga muntah-muntah. aku memang masih kecil, fikiran ku juga masih
pendek, jari aku menarik kesimpulan kalau ibu masuk angin. Karena ibu sakit,
jadi hari ini aku pulang sekolah sendirian deh, untung aja SD ku dekat rumah.
sepulang sekolah aku meihat ibu dan ayah yang duduk di kursi ruang keluarga
dengan tersenyum memandang ku, jujur aku bingung apa maksud mereka sebenarnya,
aku berjalan perlahan menghampiri mereka.“kenapa Ayah dan Ibu senyum-senyum?
ada yang lucu yah?”aku menggaruk kepala ku yang sebenarnya tidak gatal“kamu
tidak lama lagi akan punya adik” ayah mengelus-elus perut ibuAku sih senang,
haja saja aku sedikit bingung. adik ku itu memangnya baru sampai mana, kok lama
banget nyampai kerumah, tapi…., yah sudah lah, mungkin perjalanan dari tempat
asal nya ke rumah sedikit macet.Semangkin lama perut ibu semangkin membesar,
sedikit demi sedikit aku mulai mengerti bahawa adik ku akan keluar dari perut
ibu, aku merasa keluarga kami semangkin lengkap, aku juga senang akhirnya aku
akan punya teman bermain. Ini adalah keluarga yang bahagia menurut ku, ada
kehangatan, kasih sayang didalam nya.Keluarga bahagia ku hilang dengan sekejap
mata, bukan semenjak Negara api menyerang, atau pun semenjak ibu berobat di
klinik tong tong, tapi semua itu terjadi ketika Ibu melahirkan Adik ku, aku
sedih, sedih sekali, dunia memang belum berakhir tapi aku merasa separuh jiwa
ku pergi, ibu dan ayah lebih sayang kepada adik ku dibanding aku.Setiap hal
yang aku lakukan selalu salah dimata ibu, piala yang ku boyong dari sekolah
hasil lomba buat kata mutiara saja tak dapat mengalah kan ketakjuban ibu
terhadap adik ku yang baru bisa bilang kata ‘IBU’.mainan ku seenak nya saja
diambil alih oleh adik, adik ku memang licik, dengan air mata buaya nya dia
bisa mengambil apapun yang seharusnya jadi milikku. Untuk kali ini jangan tanya
kenapa aku sudah tau kata air mata buaya, soalnya satu-satu nya yang aku miliki
sekarang ini adalah boneka buaya, untung aja adik ku terlalu kecil untuk
mengangkat boneka buaya ku yang besar. kalau tidak, mungkin harta ku satu-satu
nya ini juga di amil nya.Aku benci dengan adik, kelahirannya di dunia ini
membuat hidip ku suram, setiap kali aku ingin bermain bersama teman-teman dia
pasti selalu mengganggu ku, jika aku meninggalkan nya aku yang dimarah Ibu,
diam-diam dibelakang ibu aku sering mencubit adik ku, soal nya aku geram banget
sama dia, dialah perenggut kebahagiaan ku, aku juga suka memanfaatkan nya, aku
sering menyuruh-nyuruh dia jika ibu tidak ada, tabugnan nya juga
sedikit-sedikit aku ambil untuk jajan. Aku memang sedikit keras dengan nya,
terkadang aku kasihan melihat wajah tak berdosanya namun rasa benci ku kembali
timbul jika aku mengingat kasih sayang ibu dan ayah yang berubah.Aku tau
sebenarnya adik menyayangiku, tapi aku menepis ketahuan ku dengan rasa benci
yang tiada berujung bagiku, aku tak tau sampai kapan rasa benciku terhadap nya
akan berakhir, namun semua pertanyaan ku terjawab, ketika boneka buaya ku tak sengaja
jatuh dari jendela ke jalan. adik ku tau aku sangat menyayangi boneka itu, jadi
ia berlari ke jalan untuk mengambil nya, karena ukuran tubuh nya yang masih
terlalu kecil untuk mengangkat bonekaku, harus menuntut nya untuk menyeret
boneka itu, dia sangat tertatih, terfokus dengan boneka yang dibawa nya
sehingga dia tidak menyadari bahwa ada sebuah mobil menghampiri nya, dan
alhasil dia tertabrak.Sudah seminggu dia koma akibat kecelakaan itu, hidup ku
terasa sangat hampa, tak ada lagi suara tangis, tak ada lagi adik yang selalu
menggangguku, tak ada lagi teman untuk ku bertengkar. Seharus nya aku senang
karena aku kembali menjadi anak tunggal dirumah, tapi aku mulai sadar bukan ini
yang sebenarnya aku inginkan.Aku menjadi teringat kata mutiara yang pernah aku
buat sehingga aku mendapatkan piala dulu. “SEBUAH PENYESALAN. Terkadang
seseorang baru menyadari bahwa ada orang yang sangat berarti dalam hidupnya
jika orang itu telah tiada. oleh karena itu hargailah orang-orang yang ada di
sekeliling mu, dari yang kau sayangi hingga yang kau benci, walau pun orang itu
memiliki banyak kekuranga. karena kita tak tau apa yang terjadi dengan kita
jika orang itu telah tiada. PENYESALAN datang nya selalu terakhir, jangan buat
penyesalan menyelimuti diri mu, karena tidak ada yang tau kapan penyesalan itu
akan pergi jika ia telah menghinggapi hidup mu”Dulu aku menganggap ini hanya
lah sebuah kata mutiara biasa, namun kejadian ini menyadarkan ku, piala yang ku
dapat tidak lah berarti jika aku tak dapat mengaplikasikannya.Setiap pulang
sekolah aku selalu menjenguk adik ku yang kata dokter memiliki harapan hidup
yang tipis. Aku selalu berbicara kepadanya menceritakan dongeng, mengajak dia
bercanda, mengelus-elus kepala nya yang selama ini tak pernah aku lakukan.Allah
ternyata masih sayang kepada ku, aku diberi kesempatan kedua untuk memberikan
kasih sayang kepada adik ku. Adik ku akhir nya sembuh setelah setengah bulan
terbaring di rumah sakit. Aku tersenyum sambil menetes kan air mata, karena
ketika adik ku sadar ia langsung memeluk tangan ku, ia mengatakan bahwa ia
sayang dengan ku, dia juga menanyakan kabar boneka yang di selamatkannya. Ini
benar-benar telah membuka mata ku. Ternyata keegoisan ku selama ini telah
membuat ku buta bahwa aku mempunyai adik yang sangat sayang kepada ku.Kini
setiap hari aku selalu bermain, bercanda bersama adik ku yang tersayang,
walaupun terkadang masih sering berselisih, namun itu hanyalah bumbu-bumbu
kehidupanku, yang akan terasa tawar jika tidak dicampuri. Aku juga menjadi
sadar bahwa bahwa kasih sayang ibu dan ayah sebenarnya tidak berkurang, namun
aku saja yang terlalu terfokus dengan kecemburuan ku dengan adik ku selama ini,
ibu memarahi ku karena aku menjahati adik. Apa yang ibu ku lakukan ke adik ku
itu lah yang pernah terjadi pada ku dulu. Orang tua mana yang tidak senang
melihat anak nya tumbuh berkembang, menunjukan kemajuan, mengucap kan kata
‘IBU’ ‘AYAH’ , mulai bisa merangkak, duduk, berjalan, hingga berlari.Walau pun
seharusnya tidak perlu menunggu adik ketabrak baru aku menyadari semua ini,
namun waktu telah memberiku pelajaran besar tentang kehidupan, arti kata
‘penyesalan’, arti kata ‘kasih sayang’, arti kata ‘saling menghargai’, dan yang
paling penting arti kata ‘keluarga bahagia’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar