Minggu, 18 Mei 2014

Karya Ilmiah



KARYA ILMIAH

            Ada beberapa syarat yang pelu diperhatikan dalam pemilihan dan penggunaan kata dalam karya tulis ilmiah. Syarat-syarat tersebut adalah:
1) baku
 2) tepat
 3) benar
 4) lazim
 5) seksama
1.     KATA BAKU
Kata baku adalah kata yang cara pengucapan ataupun penulisannya sesuai dengan kaidah-kaidah  standar atau kaidah-kaidah yang dibakukan. :


BAKU
Aktif
Aktivitas
Atlet
Hierarki
manajeman
TIDAK BAKU
Aktip
Aktifitas
Atlit
Hirarki
menejemen


2.     TEPAT
    Yang dimaksud tepat adalah bahwa kata itu dapat mengungkapkan gagasan secara cermat. Berikut ini contoh pilihan kata yang tidak tepat dalam kalimat:
1.   “Di mana saya dapat membeli topi Sombreto?”,kata  Tomi kepada Sabrina.
2.   “Saya mengucapkan duka cita atas meninggalnya anak ibu,”ucap Maria kepada Ibu Isabella.
Pada kalimat (1), pemakaian kata kata tidak tepat dan seharusnya diganti dengan kata tanya, sehingga kalimat itu menjadi:
1.   “Di mana saya dapat membeli topi Sombreto?”,tanya  Tomi kepada Sabrina.
Pada kalimat (2) pemakaian kata mengucapkan tidak tepat dan diganti dengan turut, sehingga kalimat itu menjadi:
2.    “Saya turut  berduka cita atas meninggalnya anak ibu,”ucap Maria kepada Ibu Isabella.

3.   BENAR
Pilihan kata itu harus benar, yaitu sesuai denagn kaidah kebahasaan. Berikut ini contoh pilihan kata yang tidak benar dalam kalimat di bawah ini:
1.     Santi telah merubah  jadwal pelajaran. ( merubah diganti mengubah)
2.     Siapakah yang mengkelola administrasi perusahaan itu?. ( mengkelola diganti mengelola)
3.     Pirsawan televisi tidak pernah melewatkan siaran Dunia dan Berita.( pirsawan diganti pemirsa)     
4.     LAZIM
Lazim berarti bahwa kata yang dipakai adalah bentuk yang sudah dibiasakan dan bukan merupakan bentuk yang dibuat-buat. .
Contoh:
1.     Afgan sedang mencari bayu di luar rumah
2.     Silvi memetik puspa di kebun.   
Kata bayu pada kalimat (1) hendaklah diganti kata angin dan kata puspa pada kalimat (2) hendaklah diganti dengan kata bunga.
5.     MAKNA LUGAS
Makna lugas (denotatif) adalah makna yang mengalami perubahan ataupun penambahan. Lugas dalam hal ini disebut juga’makna asal’. Makan inilah yang harus digunakan dalam karya tulis ilmiah. Misalnya, apabila digunakan kata panas, maka makna panas   dalam karangan ilmiah harus berarti ‘suhu’ dan tidak boleh bermakna yang lainnya.

Penulisan kata
Berikut adalah ringkasan pedoman umum penulisan kata.
1)     Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan
Contoh: ibu yakin bahwa engkau bisa.
2)     Kata turunan
a.      Imbuhan (awalan, sisipan, dan akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasar.
Contoh: bergeletar, dikelola, gerigi, duduki
b.     Jika kata dasar berbentuk gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas.
Contoh: bertepuk tangan (bertepuk-tangan), garis bawahi (garis-bawahi)
c.      Jika kata dasar berbentuk gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan ditulis serangkai.
Contoh: menggarisbawahi (menggaris-bawahi), dilipatgandakan (dilipat-gandakan)
d.     Jika salah satu unsur gabungan hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata ditulis serangkai.
Contoh: adipati, mancanegara, telepon, nonaktif
e.      Jika huruf awal kata dasar adalah huruf kapital, diselipkan tanda hubung.
Contoh: non-Indonesia, se-ASEAN [2]
f.      Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti kata esa dan kata yang bukan kata dasar, unsur gabungan itu ditulis terpisah.
Contoh: Tuhan Yang Maha Esa, Maha Penyayang
g.     Jika kata peri sebagai unsur gabungan diikuti kata yang bukan kata dasar, unsur gabungan itu ditulis terpisah.
Contoh: Segala tindakannya berdasarkan peri kemanusiaan dan peri     keadilan.
Beberapa guru memperlihatkan perilaku siswanya dengan baik. 
3)     Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
a.      Bentuk ulang bermakna tunggal
Contoh: lumba-lumba, kupu-kupu
b.     Bentuk ulang bermakna jamak
Contoh: anak-anak, buku-buku
c.      Bentuk ulang berubah beraturan
Contoh; teka-teki, ramah-tamah
4)     Gabungan kata atau kata majemuk
a.      Gabungan kata, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah.
Contoh: duta besar, orang tua, sepak bola, ibu kota
b.     Gabunga kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian.
Contoh: anak-istri saya, mesin-hitung tangan
c.      Beberapa gabungan kata yang sudah lazim ditulis serangkai.
Contoh: daripada, apabila, matahari, saputangan, sekaligus
5)     Kata ganti kau-, -mu, -nya ditulis serangkai.
Contoh: kumiliki, kauambil, bukumu, miliknya
6)     Kata depan atau preposisi di, ke, dari ditulis terpisah, kecuali yang sudah lazim, seperti kepada, daripada, keluar.
Contoh: di dalam, ke Jakarta, dari Malang
7)     Artikel si dan sang ditulis terpisah.
Contoh: Sang Harimau marah kepada sang Kancil.
8)     Partikel
a.      Partikel –lah, -kah, ditulis sserangkai.
Contoh: bacalah, siapakah
b.     Partikel –pun ditulis terpisah,  kecuali yang lazim  dianggap padu, seperti adapun, bagaimanapun, biarpun,  dan meskipun.
Contoh: apa pun, satu kali pun
c.      Partikel per- yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘setiap’ ditulis terpisah.
Contoh: per 1 Maret, per helai

 Penulisan Akronim dan Singkatan
               Akronim adalah singkatan berupa gabungan huruf awal, suku kata, ataupun huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata. Singkatan adalah bentuk kependekan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
Berikut adalah pedoman penulisan akronim dan singakatan yaitu:
a.      Akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun huruf dan suku kata dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kecil dan tidak diakhiri tanda titik.
Contoh:
Benar
salah
Pemilu
Pemilu
Rapat
Rapat

b.     Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital dan diakhiri tanda titik.
Contoh:
BENAR
SALAH
Golkar
GOLKAR
Akabri
AKABRI

c.      Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital dan tidak diakhiri tanda titik.
Contoh:
BENAR
SALAH
DPR
D.P.R.
PT
P.T.
d.     Singkatan umum yng terdiri atas satu kata diakhiri tanda titik.
Contoh:
BENAR
SALAH
 no.(nomor)
No. NO.
  hlm.(halaman)
 Hal,Hlm.
e.      Singkatan umum yang terdiri atas dua kata, masing-masing singkatan kata diikuti tanda titik.
Contoh:
BENAR
SALAH
a.n. (atas nama)
a/n
s.d. (sampai dengan)
s/d
f.      Singkatan umum yang terdiri atas tiga kata atau lebih diakhiri tanda titik.
Contoh:
BENAR
SALAH
 sda. (sama dengan di atas)
s.d.a.
g.     Lambang kimia, singkatan satuan ukuran timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Contoh:           
BENAR
SALAH
 cm
cm.aa
Rp
Rp.



[1] Prof. Dr. H. Imam suyitno, M. Pd, Karya Tulis Ilmiah (KTI) (panduan, teori, perlatihan, dan contoh).(Bandung:PT. Refika Aditama).hal.123-125.  
[2] Sri Hapsari Wijayanti.Bahasa Indonesia Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah.(Jakarta:PT.Rajagrafindo Persada.2013).hal.7.
[3] Ibid.hal.8-9.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar